Sabtu, 02 Juni 2012

MAKALAH SUPERVISI KLINIS


A. Supervisi klinis
            Seorang supervisor pembelajaran yang professional mampu melakukan pendekatan klinis dalam pelaksanaan tugasnya. Kajian dan diskusi mengenai supervise klinis di bidang pendidikan makin intensif akhir-akhir ini. Hal ini membersitkan kuatnya pengakuan atas status supervisor klinis sebagai profesi atau setidaknya subkeahlian dari supervisor pembelajaran. Khususnya Indonesia seharusnya pengawasan memenuhi angka kredit untuk naik jabatan fungsional tertentu membuktikan pengakuan Negara atas profesi ini, meski sangat mungkin substansi masih layak di perdebatkan. Upaya untuk menemukan model atau teknik supervise pembelajaran terbaik akan terus dilakukan, meski sangat mungkin tidak akan benar-benar berhasil menemukannya.
            Tingkat kemandirian guru yang sangat tinggi seringkali menyebabkan mereka tidak merasa perlu lagi kehadiran supervisor. Sementara pengawas, yang karena tugas pokok dan fungsinya, merasa memiliki otonomi untuk mensupervisi guru seperti apa pun. Pengawas memandang aktivitas mensupervisi guru adalah haknya dan keputusan bertindak ada pada sisinya, sedangkan guru tertentu sangat mungkin merasa tidak memerlukan lagi, karena dia sudah memposisikan diri sebagai tenaga professional sungguhan.
            Supervisi klinis di bidang kependidikan di sini tidak hanya diilhami oleh prinsip-prinsip klinikal di bidang kedokteran, melainkan juga beranjak dari ajaran psikolog. Di dalam praktik klinikal yang dilakukan oleh psikolog, tindakan diagnose, terapi, dan penyembuhan secara psikologis bukan lagi fenomena baru.
            Mengikuti logika itu, pelaksanaan supervisi klinis untuk meningkatkan  kemampuan professional guru dilakukan melalui tahapan-tahapan: (a) praobservasi yang berisi pembicaraan dan kesempatan, antara supervisor dengan guru mengenai apa permasalahan yang dihadapi oleh guru atau apa yang akan diamati dan diperbaiki dari pengajaran yang dilakukan; (b) observasi, yaitu supervisor mengamati guru dalam mengajar sesuai dengan fokus yang telah disepakati; (c) analisis permasalahan yang dilakukan secara bersama oleh supervisor dengan guru terhadap hasil pengamatan; dan (d) perumusan langkah-langkah perbaikan, dan pembuatan rencana untuk perbaikan.
            Perwujudan supervisi klinis memang tidak melulu terfokus pada pengembangan professonal guru, melainkan berkaitan juga dengan kesejahtraan, proteksi atas profesi, dan peningkatan hasil belajar siswa.
            Di bidang psikologi supervisi klinis sudah menempuh perjalanan relative panjang. Pada tahun 1929-an, max etingon mendirikan supervisi formal di institut psikoanalisis Berlin. Tahun 1930-an, Rift mendirikan mendirikan sekolah Budapest yang banyak melakukan kejian mengenai supervisi sebagai terapi.

B. Definisi Supervisi Klinis
            Apa suvervisi klinis itu? suvervisi klinis adalah bantuan professional kesejawatan oleh supervisor kepada guru yang mengalami masalah dalam pembelajaran agar yang bersangkutan dapat mengatasi masalahnya dengan menempuh langkah yang sistematis, dimulai dari tahap perencanaan, pengamatan prilaku guru mengajar, analis perilaku, dan tindak lanjut. Supervisi klinis adalah proses bantuan atau terapi professional yang berfokus pada upaya perbaikan pembelajaran melalui proses siklikal yang sistematis dimulai dari perencanaan, pengamatan dan analisis yang intesif terhadap penampilan guru dengan tujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran.
            Dari situs www.kkh.com.sg diperoleh rumusan supervisi klinis sebagai “A formal process of professional support and learning that enables individual practitioners to develop knowledge and competence, assume responsibility  for their own practice in a wide range of situations”. suvervisi klinis merupakan sebuah proses formal berbentuk dukungan professional dan belajar yang memungkinkan individu praktis  mengembangkan pengetahuan dan kompetensi,cserta memegang tanggung jawab bagi tindakan-tindakan praktis pada situasi yang lebih luas. Bordersr et al. (1991) merumuskan, “clinical supervision is the construction of individualized learning plans for supervisees working with clients.” Supervisi klinis adalah konstruksi rencana pembelajaran individual bagi yang supervisi agar bisa bekerja efektif dengan kliennya.

 
C. Ciri-ciri Supervisi Klinis
            Perilaku supervisi memandang masalah klien sebagai masalah belajar. Karenanya, hal itu memerlukan dua keahlian. Pertama, identifikasi masalah. Kedua, menyeleksi teknik belajar yang tepat (Leddick & Bernard, 1980). Guru yang disupervisi dapat berpartisipasi sebgai ko-terapi untuk melakukan penguatan. Supervisi klinis termasuk bagian dari supervisi pembelajaran. Perbedaannya dengan supervisi yang lain adalah prosedur pelaksanaanya ditekankan kepada mencari sebab-sebab atau kelemahan yang dilakukan oleh guru selama proses pembelajaran dan kemudian langsung diusahakan perbaikanvsupervisi klinis yang baik bercirikan seperti berikut ini.
1.      Bimbingan supervisor pengajaran kepada guru bersifat hubungan pembantuan, bukan hubungan perintah atau instruksi.
2.      Kesepakatan antara guru dan supervisor tentang apa yang dikaji dan jenis keterampilan yang paling penting merupakan hasil diskusi bersama.
3.      Instrument supervisi klinis dikembangkan dan disepakati bersama antar guru dengan supervisor.
4.      Guru melakukan persiapan dengan mengidentifikasi aspek kelemahan-kelemahannya yang dipandang perlu diperbaiki.
5.      Pelaksanaan supervisi klinis selayaknya teknik observasi kelas
6.      Umpan balik atau balikan diberikan dengan segera dan bersifat obyektif.
7.      Guru hendaknya dapat menganalisis penampilannya.
8.      Supervisor lebih banyak bertanya dan mendengarkan daripada memerintah atau mengarahkan guru.
9.      Supervisor dan guru berada atau menciptakan kondisi dalam keadaan atau suasana akrab dan terbuka.
10. Supervisor dapat digunakan untuk membentuk atau peningkatan dan perbaikan keterampilan pembelajaran.
  
D. Karakteristik Supervisi Klinis
1.      Perbaikan proses pembelajaran mengharuskan gruru mempelajarari kemampuan intelektual dan keterampilan teknis. Supervisor mendorong guru berprilaku berdasarkan kemampuan intelektual dan keterampilan teknis yang dimilikinya.
2.      Fungsi utama supervisor adalah menginformasikan beberapa kemampuan dan keterampilan seperti : (1) kemampuan dan keterampilan menganalisis proses pembelajaran berdasarkan hasil pengamatan, (2) kemampuan dan keterampilan mengembangkan kurikulum, terutama bahan pembelajaran, (3) Kemampuan dan keterampilan dalam proses pembelajaran, (4) Kemampuan dan keterampilan guru melakukan evaluasi dan tindak lanjut
3.      Berfokus pada (1) Perbaikan mutu proses dan hasil pembelajaran, (2) Perbaikan kinerja guru pada hal-hal spesifik yang masih memerlukan kesempurnaan, dan(3) Upaya perbaikan di dasari atas kesepakatan bersama dan pengalaman masa lampau.
4.      Hubungan pembantuan antara supervisor dengan yang disupervisor mengedepankan dimensi kolegialitas.
5.      Tindakan supervisor menemukan kelemahan atau kekurangan guru semata-mata untuk diperuntukan bagi upaya perbaikan, buakan utuk keperluan penilaian atas prestasi individual guru.

E. Urgensi Supervisi klinis
1.      Mengindarkan guru dari jebakan penurunan motivasi dan kinerja dalam melakukan proses pembelajaran.
2.      Menghindarkan guru dan upaya menutupi kelemahannya sendiri melalui cara-cara dialok terbuka dengan supervisornya.
3.      Menghindara ketiadaan respon dari supervisor atau praktik profesionalyang telah memenuhi standar kompetensi dank ode etik atau yang masih dibawa standar.
4.      Mendorong guru untuk selalu daptif terhadap kemajuan iptek dalam proses pembelajaran.
5.      Menjaga konsistensi guru agar tidak kehilangan identitas diri sebagai penyanggang profesi yang terhormat dan bermanfaat bagi kemajuan generasi
6.      Menjaga konsistensi prilaku guru, agar tidak masuk dalam jabatan kejenuhan professional (bornout), bukan meningkatkannya.
7.      Mendorong guru untuk secara cermat dalam bekerja dan berinteraksi dengan sejawat dan siswa agar terhindar dari pelanggaran kode etik profesi guru.
8.      Menghindarkan guru dari praktik-praktik melakukan atau mengulangi kekeliruan secara massif dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.
9.      Menghindarkan guru dari erosi pengetahuan yang sudah didapat dari pendidikan prajabatan selama studi di perguruan tinggi.
10. Menghindarkan siswa dari praktik-praktik yang merugikan, karena tidak memperoleh layanan yang memuaskan, baik secara akademik ataupun non akademik.
11. Menjauhkan guru dari menurunnya apresiasi dan kepercayaan siswa, orangtua siswa, masyarakat atau profesi yang mereka sandang.
F. Tujuan Supervisi Klinis
1.      Menjaga konsinstensi motivasi dan kinerja guru dalam melaksanakan proses pembelajaran
2.      Mendororng keterbukaan guru kepada supervisior mengenai kelemahannya sendiri dalam melaksanakan pembelajaran
3.      Menciptakan kondisi agar guru terus menjaga dan meningkatkan mutu praktik professional sesuai standar kompetensi dank ode etik yang telah ditetapkan
4.      Menciptakan kesadaran guru tentang tanggung jawab terhadap pelaksanaan pembelajaran yang berkualitas, baik proses maupun hasilnya
5.      Membantu guru untuk senaantiasa memperbaiki dan meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, wawasan umum dan keterampilan khusus yang diperlukan dalam pembelajaran
6.      Membantu guru untuk dpat menemukan cara pemecahan masalah yang ditemukan dalam proses pembelajaran, baik di dalam maupun di luar kelas
7.      Membantu guru untuk dapat menemukan cara pemecahan masalah yang ditemukan dalam proses pembelajaran, sehingga bena-benar meberi nilai tambah bagi siswa dan masyarakat
8.      Membantu guru untuk mengembangkan sikap positif terhadap profesi dalam menegmbangkan diri secara berkelanjutan, baik secara individual  maupun kelompok, dengan cara yang dikembnagkan atau atas inisiatif sendiri.
G. Prinsip-prinsip Supervisi Klinis
1.      Hubungan supervisor dengan guru  disadari sangat kolegialitas yang taat asas.
2.      Setiap  kelemahan dan kesalahan guru semata-mata digunkan untuk tindakan perbaikan, tanpa secara eksplisit melabeli guru belum professional
3.      Menumbuhkembangkan posisi guru, mulai  dari tidak professional sampai professional sungguhan
4.      Hubungan antara supervisor dengan guru dilakukan secara objektif, transparan, dan akuntabel
5.      Diskusi dan pengkajian atas umpan balik yang segera atau yang diketahui kemudian bersifat demokratis dan didasarkan pada data hasil pengamatan
6.      Hubungan antara supervisor dengan guru bersifat interaktif, terbuka, objektif, dan tidak bersifat menyalahkan
7.      Pelaksanaan keputusan atau tindakan perbaikan ditetapkan atas kesepakatan atau kerelaan bersama.
H. Bagaimana prosedur supervisi klinis?
Pelaksanaan supervisi klinis berlangsung dalam suatu siklus yang terdiri dari tiga tahap berikut :
·        Tahap perencanaan awal. Pada tahap ini beberapa hal yang harus diperhatikan adalah:
1.      menciptakan suasana yang intim dan terbuka
2.      mengkaji rencana pembelajaran yang meliputi tujuan, metode, waktu, media, evaluasi hasil belajar, dan lain-lain yang terkait dengan pembelajaran,
3.       menentukan fokus obsevasi,
4.      menentukan alat bantu (instrumen) observasi, dan
5.      menentukan teknik pelaksanaan obeservasi.
·        Tahap pelaksanaan observasi. Pada tahap ini beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain:
1.      harus luwes,
2.      tidak mengganggu proses pembelajaran,
3.      tidak bersifat menilai,
4.      mencatat dan merekam hal-hal yang terjadi dalam proses pembelajaran sesuai kesepakatan bersama, dan
5.    menentukan teknik pelaksanaan observasi.
Tahap akhir (diskusi balikan). Pada tahap ini beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain:
1. memberi penguatan;
2. mengulas kembali tujuan pembelajara.
3.  mengulas kembali hal-hal yang telah disepakati bersama,
4. mengkaji data hasil pengamatan,
5. tidak bersifat menyalahkan,
6. data hasil pengamatan tidak disebarluaskan,
7. penyimpulan,
8. hindari saran secara langsung, dan
9. merumuskan kembali kesepakatan-kesepakatan sebagai tindak lanjut proses perbaikan.

I. Komunikasi Klinis
Ada dua sikapsupervisor pembelajaran yang mempengaruhi proses berkomunikasi, yaitu sikap yang memnghambat dan sikap yang membantu. Dua sikap pengirim pesan yang menghambat dan membantu proses komunikasi menurut  Jack R. Gibb (1970) dalam “journal of Communication” dituangkan berkit ini.

Sikap menghambat
Evaluasi
Penguasaan
Manipulasi
Tidak memperhatikan
Bersikap super
kaku

Sikap membantu
Deskripsi
Permasalahan
Spontanitas
Member perhatian
Menyamakan diri
Luwes

Evaluasi-Deskripsi
Supervisor yang cenderung meberi penilaian terhadap guru binaannya akan menghadapi reaksi yang defensive dari penerima pesan itu. Sebaliknya, supervisor yang memeberi penjelasan secara deskriptif akan memeperoleh respon positif dari guru binaannya.
Penguasaan-Permasalahan
Supervisor yang bersikap sebagai penguasa atau pimpinan yang otoriter, akan membuat guru binannya menjadi imperior dan defensive. Supervisor yang berbicara bersifat ingin memecahkan berbagai masalah akan disambut secara positif dan konstruktif oleh guru yang disupervisi.
Manipulasi-Spontanitas
Supervisor selaku penyampaian pesan yang bernada manipulative atau bersikap “ada udang di balik batu” akan disambut dengan sikap negative oleh guru dan tidak mungkin menciptakan suasana kuminkatif  antar sesama mereka.

Tidak memperhatikan-Memperhatikan
Sikap dingin supervisor atau penyampai informasi akan ditanggapi oleh guru sebagai penerima informasi secara tidak penuh dan dengan demikian komunikasin tidak penuh dengan demikian komunikasi tidak akan berjalan secara efektif.
Bersikap-Menyamakan diri
Penyampai pesan atau supervisor yang berlagak angkuh atau superiorvtidak akan dapat menyampaikan informasi secara baik kepada guru sebagai penerima pesan, karena maereka akan mempunyai kesan, bahwa supervisor hanya menampakkan egonnya.
Kaku-Luwes
Supervisor yangb hanya berusaha menawarkan keputusan-keputusan sendiri dengan dalih mau dlihat bersikap demokratis akan membuat guru atau penerima informasi jadi negative. Jika supervisor bersikap luwes maka guru akan menerima secara luwes juga.

            Ketidakmampuan supervisor pembelajaran tersebut akan menyebabkan dia maupun guru tidak memperoleh kepuasan akibat tidak adanya perasaan saling mempercayai nsatu sama lain. Factor-factor yang menyebabkan komunikasi antara supervisor pembelajaran dan guru adalah:
1.      factor psikologis, yaitu persepsi dan penapsiran guru yang dibina terhadap stimulus yang ada dari supervisor ditentukan oleh tingkatan emosi dan sifat pribadi seorang supervisornya
2.      factor biofisikal,
3.      factor psikofisikal
4.      factor sosiokultural
 dan masih banyak lagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar